eMWei’s path

Masukan dari Februari 2009

Keajaiban Dunia = Soulmate ?

Februari 27, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Enggak seperti keajaiban dunia yang lain, keajaiban dunia bagiku berwujud manusia. Mau tau siapa dia? Dialah papanya anak2ku. (ehmm..ehmm… …moga2 yang bersangkutan gak baca…hehehe… :D )

 

Entah oleh suatu kekuatan apa (ya yang pasti izin Allah swt), keajaiban ini mulai aku rasakan sejak tahun 1989 (eh…tapi waktu itu belum jadi suami ya…bahkan jadi pacar pun belom kok :P   ). Pada beberapa kesempatan aku sering melakukan beberapa hal secara bersamaan dengannya. Misalnya nih ya…., pas pada detik yang sama aku batuk dia juga batuk. Pas pada detik yang sama aku berdehem, dia juga berdehem. Terus, pada detik yang sama aku nyanyi lagunya Chrisye eh…dia juga pas nyanyi lagu yang sama dan memulainya pun pada kalimat yang sama. Sering akhirnya kita liat-liatan trus ketawa geli ….. Itulah …aneh tapi nyata.

 

Dan ternyata, hingga saat ini pun peristiwa aneh tapi nyata itu masih berlanjut. Aku sempet dibuat geli banget dengan kejadian 2 hari yang lalu. Kebetulan hari itu aku buat nasi bogana kesukaan anak2. Dan mau tahu apa yang terjadi sore hari? Ternyata papa pulang dari kantor membawa 2 bungkus nasi bogana. Heheheh…. Aneh nggak sih? Bukan itu saja, beberapa kali pun kejadian seperti itu pernah terjadi. Pada saat aku masak gudeg komplit, papa pas makan malam ketawa, katanya tadi siang di kantor makan gudeg. Pas aku goreng lele, katanya siang tadi makannya pecel lele.

 

Oya, ini yang lucu… ceritanya waktu itu aku penasaran banget pengen bikin roti cane. Setelah berhari2 belajar lewat youtube akhirnya aku meyakinkan diri bahwa aku bisa membuatnya. Tapi…ternyata …faktor semangat tidak selamanya berbanding lurus dengan kemampuan. Ternyata roti cane yang aku bikin berbentuk aneh..alias GAGAL sodara-sodara…. Bukan cuma bentuknya yang aneh tapi teksturnya pun gak dapet. Bahkan Niti aja sampe ketawa geli ngeliat roti cane ajaibku. :D Tapi ternyata sore harinya aku mendapat kejutan besar. Gak disangka-sangka kok pas banget papa sepulang dari kantor bawa oleh2 roti cane dari RM Kubang komplit dengan bumbu karinya. Kok bisa yaa….. ???? Wallahu a’lam….. 

What ever it is…..I luv u, paa…..

 

 

 

Kategori: jejak_keluarga · jejak_keseharian

IPA atau IPS ?

Februari 27, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Pertanyaan itu saat ini sedang jadi topik hangat di rumah. Masalahnya bentar lagi Dita udah mau penjurusan, tepatnya pada saat kenaikan ke kelas XI nanti. Udah jauh-jauh hari aku “memaksa” dia untuk memikirkan pilihan mana yang diinginkan.

 

Pada awal-awal di SMA selalu kalo ditanya mau ambil jurusan apa Dita menjawab “nggak tau, ma”. Begitulah jawaban khas remaja sekarang yang aku nggak suka :P . Hingga pada suatu kesempatan, sambil menunggu antrian di dokter gigi tiba2 Dita menanyakan ke aku, “Mama marah enggak kalo aku masuk IPS ?”. Nah lo, kaget juga dapat pertanyaan begitu. Kenapa kaget karena sebetulnya aku lihat dia punya kemampuan untuk ambil jurusan IPA, dan kebetulan hasil psikotesnya juga menyatakan dia bisa masuk IPA.  Dan kenapa aku kaget atas pertanyaan tadi, baru aku ngeh kalo ternyata secara tidak sadar aku sebetulnya berharap Dita akan memilih jurusan IPA. Kenapa? Karena bila masuk jurusan ini akan lebih banyak pilihan yang terbuka di depan, pikirku.

 

.Hingga saat ini masih banyak orang tua yang akan merasa bangga dan bahagia bila anaknya berhasil masuk jurusan IPA. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, yang merasa dunianya runtuh pada saat mengetahui anaknya harus masuk jurusan IPS. Pertanyaan Dita tadi memaksa aku untuk segera bersikap. Apakah aku termasuk salah satu dari mereka? Rasanya sangat konyol bagiku bila aku memaksakan kehendakku pada anakku.

 

Namun terlepas dari itu, sebetulnya ada satu hal yang menggelitik bagiku kenapa Dita lebih memilih IPS daripada IPA, kenapa dia “menyia-nyiakan” kesempatan untuk bisa masuk jurusan IPA padahal di sisi lain banyak sekali yang menginginkannya. Disinilah aku merasa disadarkan bahwa inilah saatnya aku harus berpikir dan bersikap sebagai “orang tua”. Akhirnya aku memang harus melihat persoalan secara lebih mendalam.

 

Sebetulnya inti dari semuanya bukanlah jurusan apa yang akan dipilih. Yang lebih harus diperhatikan adalah “kenapa memilih yang satu di antara pilihan yang lain”. Inilah yang harus kuat memotivasi Dita. Aku sering sekali menanamkan ke Dita, jangan kita memilih sesuatu karena sekedar menghindari sesuatu di pilihan lain. Misalnya, jangan kita (terpaksa) mengambil jurusan IPS karena ingin  menghindari pelajaran kimia di IPA. Satu hal yang menurutku jauh lebih penting adalah anak harus mengerti apa yang dipilih, mengerti akan tujuan yang lebih jauh atas pilihannya, mengerti kelebihan dan kekurangannya, dan ujung dari semuanya adalah bertanggung jawab atas pilihannya.

 

Jadi, IPA atau IPS hanyalah sebuah jembatan kecil untuk menempuh tujuan yang lebih jauh dari apa yang dicita-citakan. Selanjutnya, jurusan apapun yang nantinya akan dipilih Dita, sudah barang tentu aku akan mendukung sepenuhnya sejauh semuanya memang sudah dipertimbangkan dengan matang. Dan disinilah orang tua akan sangat berperan dengan mengajak anaknya selalu berdiskusi untuk membantu anak menggali sekaligus melihat dengan kaca mata yang lebih lebar.

 

So, go ahead girl… reach your dream…..and fight for it…..

 

 

 

Kategori: jejak_keseharian