eMWei’s path

Entries categorized as ‘jejak_jiwa’

OMG

Maret 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pernahkah kamu merasa useless?
Tidak bermakna ?
Tidak berharga ?
Bukan saja yang dilakukan menjadi hal yang keliru dan sia-sia
Bahkan yang tidak dilakukan pun menjadi salah dalam pandangan orang lain
Ketidaksempurnaan adalah milik manusia
Tapi terkadang terlihat begitu menonjol di satu waktu
Kesalahpahaman adalah manusiawi
Namun terkadang begitu menghantui
Dan lemahnya fisik pun demikian membatasi
Hingga tiada tersisa untuk mengungkap rasa

Ya Allah…….. berilah aku kekuatan ………
Kekuatan untuk terus berjalan ……menembus perihnya luka
Menunggu kata maaf yang tiada pernah terucap
Berilah aku kekuatan untuk terus melangkah
Jadikan langkahku bermakna dalam pandangan-Mu ya Allah…..
Walau sekecil debu yang tertiup angin…..
Kutahu tiada satupun yang terlewatkan oleh-Mu….
 
 
 

Kategori: jejak_jiwa · jejak_keseharian

Kisah Ahmad Izzah – sebuah renungan

September 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Semoga dengan belajar dari kisah ini Allah swt semakin mengukuhkan keimananku. Amin…..Allahumma Amin…..

______________________________________________________________________

  

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu lars milik tuan Roberto itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata. Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang.

‘Algojo penjara’ itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan hanya mengeluarkan kata, “Rabbi, wa ana ‘abduka…La haula walaa quwwata illaa billaah…” Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu fil jannah.”

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang tengah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak juga menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya ” Abi…Abi…Abi…” Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad izzah …” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai’tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.” Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyhadu anla Illaaha illallah,wa asyhadu anna Muhammadan Rasullullah..” Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam’, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya… ” Al-Ustadz Ahmad izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah…”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30:30)

 

Kategori: jejak_jiwa

Marhaban yaa Ramadhan

September 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Sungguh terasa bagiku

Betapa kotor jiwa ini selama menempuh perjalanan hidup

Betapa kering hati ini selama berjalan meniti hari

Dan kini

Tak terasa telah sampai aku disini

Alhamdulillah ya Allah……

Engkau beri aku kesempatan

Untuk luruh dalam nikmat yang Kau curahkan kedalam oase Ramadhan-Mu ini

Untuk mensucikan hati

Untuk mensucikan jiwa

Untuk bersimpuh memohon ampunan dan debu cinta-Mu

                          

Marhaban yaa Ramadhan

Bulan suci, bulan penuh rahmat, berkah, dan ampunan

 

 

 

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan buat semuaa….

Mohon maaf lahir dan batin

Semoga rahmat dan ampunan Allah swt dapat kita raih……

 

Wassalam.

 

 

Kategori: jejak_jiwa

Edelweiss

Agustus 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me

Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever

Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever

   

 

Kalau saja yang aku dengar adalah lagu Edelweiss dari film “The Sound of Music” tentu hatiku akan mendayu-dayu dipenuhi keheningan dan kedamaian, sehening dan sedamai ketinggian gunung dimana bunga-bunga edelweiss itu tumbuh subur menghiasi tebing-tebingnya. Namun edelweiss yang aku temui ini adalah ruang rawat inap di RS Mitra Keluarga Bekasi dimana aku harus menginap selama 4 malam disana. Tentu perasaan yang jauh berbeda yang aku rasakan pada waktu mendengar aku harus dirawat karena kelenjar getah beningku yang terinfeksi.

 

Tidak seperti biasanya, pagi itu setelah aku menyiapkan segala keperluan anak-anak untuk berangkat sekolah tubuhku menggigil kedinginan disertai pusing, mual, dan segala yang enggak enak. Dan tidak seperti biasanya pula pagi itu aku pesan ke anak-anak supaya pintu garasi langsung ditutup aja, karena aku tidak mengantar mereka sampai ke depan rumah. Setelah itu aku segerakan untuk menunaikan sholat subuh, dan sesudahnya tubuhku semakin minta untuk tidur.

 

Aku ukur suhu tubuhku dan termometer menunjukkan angka 38, wah…cukup demam, pikirku. Sekitar pukul 7.00 pagi papanya anak2 pulang dari mengantar sekolah. Hari itu memang sudah aku jadwalkan untuk pergi ke dokter, makanya si papa gak ke kantor. Pagi itu aku ukur ulang suhu tubuhku dan ternyata sedikit naik menjadi 38.4. Mengetahui aku sakit, mbak evi sebelah rumah segera menjengukku ke rumah. Dipijitnya kaki-kakiku yang terasa sakit. Sambil memijit-mijit, dia katakan “pantes, kemaren waktu acara jalan sehat kok aku nggak seperti biasanya diemmm… aja, gak ngobrol, gak makan, Cuma melonjorkan kaki, bersandar ke dinding, dan bolak-balik minum teh jahe yang disajikan”. Yaa.., sebetulnya sejak 2 hari sebelumnya badanku sudah terasa tidak sehat.

 

Pada pukul 10 pagi itu aku diantar si papa berangkat ke rumah sakit. Aku semakin lemas gak berdaya, hanya meringkuk di mobil sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit pun aku terduduk lemas di bangku tunggu. Tapi Allah ternyata benar-benar memberikan pertolongan. Dari urutanku yang ke 24 pada saat aku datang nomor urut yang ada di ruang dokter baru menunjukkan nomor 1. Yang terbayang sebelumnya adalah waktu antrian yang lama. Tapi seperti kataku tadi, kalau Allah menghendaki gak ada yang gak mungkin. Entah kenapa nomor2 selanjutnya dipanggil kok gak ada yang muncul. Aneh sekali. Dan tidak terlalu lama sampailah nomorku dipanggil. Alhamdulillah….. jadi inget acara di TV dulu yang bertajuk “percaya nggak percaya”. Tapi itulah bantuan Allah.

 

Dari hasil pemeriksaan dokter menyarankan aku untuk dirawat, mengingat suhuku kembali naik menjadi 39.70 C. Aku pasrah saja. Yang menjadi pemikiranku hanyalah bagaimana urusan rumah dan anak-anak. Memang itu yang menjadi beban pikiranku, meninggalkan anak-anak pada saat mereka masih membutuhkan aku. Tapi segera aku luruskan pikiranku. “ Ya Allah, aku pasrahkan anak-anak dan suamiku dalam perlindungan-Mu”, begitulah doaku waktu itu.

 

Saudara-saudara dan teman-teman bergantian mengunjungiku di rumah sakit. Tentu saja kehadiran serta doa mereka sangat memberiku semangat. Apalagi kalau saatnya anak-anak dan papanya berkunjung. Aduuh…., nggak terkatakan deh…karena merekalah buah hatiku… Juga beberapa teman yang tidak bisa berkunjung dari berbagai kota sengaja mengirim sms yang berisi doa dan penyemangat. Salah satu sms yang sangat menyentuhku berbunyi “ mbak, terkadang dalam ujian terkandung karunia Allah” (matur nuwun ya, mas Darmadi). Aku coba untuk memaknai sms itu…. Dan, alhamdulillah dari sana aku justru mensyukuri sakitku itu karena itulah cara Allah memaksaku untuk sementara berhenti dari siklus mesin keseharianku agar bisa bertafakur. Subhanallah, banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan dari kursus kilat yang diberikan Allah itu. Aku sangat menyadari bahwa sakitku adalah pemberian Allah dan aku ikhlas untuk melaluinya. Dan karena itu maka hanya kepada Allah-lah aku memohon segalanya. Pada saat sakit kita semakin bisa merasakan nikmat yang telah kita terima dari-Nya, dan hanya Allah yang memiliki hak prerogative apakah kita masih diberi kesempatan untuk menikmatinya atau tidak. Ya Allah…. Engkaulah Yang Maha Tahu….

 

Dan akhirnya…. hari ini aku sudah bisa duduk lagi di depan komputer dalam keadaan yang sudah pulih. Semua kegiatan rutinku semakin terasa indah aku lalui. Menyapu, memasak, mencuci, menyeterika, yaa…pokoknya layaknya semua kegiatan ibu-ibu di rumah menjadi semakin indah bagiku ……

 

Thank to edelweiss class…..

 

Kategori: jejak_jiwa · jejak_keseharian

WAKTU

Juli 25, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

sudah dua kali perpanjangan waktu

sekarang saatnya

untuk membaca

menyiapkan

dan menghadapi

 

Penggalan kalimat itu seketika menghentakkanku. Kalimat yang aku tulis lebih dari 5 tahun yang lalu. Kalimat yang sewaktu menulisnya batinku dipenuhi dengan kesadaran akan satu hal yang mendalam, namun kemudian perlahan-lahan luntur oleh waktu. Aneh sekali, apa yang aku tulis saat itu sebetulnya mengatakan tentang waktu namun justru kesadaran itu juga terkikis oleh waktu. Namun mungkin itulah rahmat yang diberikan Allah kepadaku. Satu cara indah mengingatkanku sehingga dengan “tanpa sengaja” aku seperti dilaundry dengan diberi kesempatan oleh-Nya pada saat membacanya kembali.

 

Yaa…

Waktu adalah salah satu ciptaan Allah swt yang sungguh dahsyat. Bahkan tak habis-habis aku mengagumi ciptaan-Nya ini. Bagaimana tidak ?? Aku coba membayangkan bagaimana kedahsyatan kata yang beranggotakan 5 huruf itu. Pernah suatu saat seorang sahabatku curhat kepadaku menceritakan bagaimana dia begitu menyesal pernah menyakiti orang yang dia sayangi, yaitu pasangan hidupnya sendiri. Walaupun sudah memohon maaf dan mencoba untuk memperbaiki segala sesuatunya tetap saja hatinya diliputi oleh perasaan bersalahnya. Pada saat itu aku katakan padanya bahwa WAKTU akan mampu mengobati segalanya.

 

Hahh… aku mendadak dikagetkan dengan apa yang aku ucapkan sendiri. Entahlah, suatu kalimat yang aku ucapkan “sekedar” untuk menenangkan sahabatku itu justru membuatku terkejut dan tidak tenang. Aku berusaha merenung dan memaknai kalimat yang baru saja meluncur dari mulutku sendiri. Yaa… memang kadang2 kita tidak menyadari bahwa apa yang kita ucapkan secara spontan sebetulnya memiliki makna yang dalam dan menjadi cambuk buat diri kita sendiri. Dan itulah yang sedang terjadi padaku.

 

Waktu adalah kesempatan. Dengan waktu, segala kejadian bisa saja dapat terjadi, baik kejadian “sepele” seperti lembaran daun yang jatuh tertiup angin, maupun kejadian besar yang mampu merubah kehidupan. Dengan waktu, sebutir telur bisa menetas dan tumbuh menjadi anak ayam. Dengan waktu, sepucuk tunas bisa menghasilkan berkarung-karung buah. Dengan waktu, sebuah luka bisa mengering. Dengan waktu, seorang yang sakit dapat sembuh dengan berobat. Dengan waktu, seorang peneliti ilmiah bisa menguak tabir-tabir. Dengan waktu, seorang anak bisa belajar banyak hal dan mengasah seluruh potensinya. Dengan waktu, seorang ibu bisa menanamkan akhlak baik kepada anak-anaknya. Dengan waktu, seorang anak dapat berusaha untuk “membalas” ketidakterhinggaan kasih sayang kedua orang tua. Dengan waktu, seorang istri bisa memberi yang terbaik untuk suami dan keluarganya. Dengan waktu, kita bisa menikmati kehangatan keluarga. Bahkan dengan waktu, kita memiliki kesempatan untuk mengucapkan kata maaf. Dengan waktu pula kita bisa memiliki kesempatan untuk terus mendekat kepada Sang Maha Pemberi Rahmat, Allah Ta’ala.

 

Dan….waktu adalah umur. Bagaimana bila Allah menghapus salah satu nikmat-Nya yang bernama WAKTU. Takkan bisa kita dengar lagi derai tawa anak-anak kita. Takkan bisa lagi kita hadiahkan senyum manis kita untuk keluarga kita. Takkan bisa lagi kita bersihkan hati kita yang penuh debu. Bahkan, hanya untuk mengucapkan sepenggal kata maaf untuk orang-orang yang pernah kita sakiti pun takkan bisa lagi kita lakukan. Apalagi untuk membasahi jiwa kita yang kering dengan menyebut dan mengagungkan Asma-Nya……….

 

Kategori: jejak_jiwa