eMWei’s path

Entries categorized as ‘jejak_keluarga’

6 Maret 2002

Maret 10, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Sore itu, sesuai rencana aku minta ijin ke atasanku untuk pulang lebih cepat supaya segera bisa menuju ke RS. Ibuku harus dirawat karena penyakit jantung. Tiba2 dalam perjalanan adikku menelpon supaya aku segera sampai ke RS karena kondisi Ibu yang drop. Sesampainya disana aku setengah berlari menuju ruang ICCU. Di sana adikku dan kakak2ku sudah berkumpul. Dan oh…Yaa Allah….ternyata pada sore itu kami semua harus menghadapi kenyataan bahwa Ibuku sedang menuju detik2 pertemuan dengan Sang Khalik. Sambil membacakan talqin di samping telinganya, ekor mataku memperhatikan monitor dimana detak jantung terus menurun, dihitung dengan hitungan mundur.

50….40…25…15…10…5……0…………………………………………………………

Dan ketika waktu menunjukkan pukul 18.15 WIB tiba2 aku merasakan seakan-akan hatiku ikut pergi bersamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

 

Tidak terkatakan dan tidak juga terlukiskan bagaimana dalamnya rasa kehilanganku atas kepulangan Ibu ke Rahmatullah. Dengan berurai air mata, Papanya anak2 langsung aku telpon. Tapi selanjutnya tidak terbayangkan bagaimana aku harus menyampaikan kabar duka ini ke anak-anak. Bagaimana tidak……kepada Neneknyalah mereka melalui hari-hari pada saat aku ke kantor, selama bertahun-tahun sejak kelahiran mereka. Ya, sejak awal pernikahanku Ibu dan Bapakku selalu setia mendampingi aku hingga maut memisahkan. Mungkin salah satu alasan mereka untuk memilih bersamaku karena pada saat itu suamiku harus bekerja di luar kota. Dan selama 10 tahun usia pernikahan kami Ibu selalu ada di sampingku dan juga anak2ku, hingga tibalah hari itu.

 

Sebetulnya 2 hari sebelum hari itu Ibuku berulang tahun. Dan sangat menyedihkan karena ternyata hari yang harusnya membahagiakan itu harus dilalui di ruangan ICCU. Dan pada hari itu aku datang ke rumah sakit dengan membawa 2 buah lukisan Dita dan Niti sebagai hadiah untuk Neneknya yang tercinta. Namun apa yang aku temui, ternyata pagi itu tgl 4 Maret 2002 Ibuku menurun kondisinya, bahkan memasuki masa kritis. Kami semua tentunya sangat sedih melihat perkembangan hari itu. Kami semua (aku dan saudara2ku) bersama beberapa adik Ibu membacakan doa2 untuk Ibu. Dan, seakan tidak mau mengecewakan cucunya, sangat diluar dugaan tiba2 kondisi Ibu sangat cepat membaik pada sore harinya. Dan pada saat maghrib menjelang aku boleh masuk ke dalam., Pada kesempatan itu pula aku sampaikan ucapan selamat dan doa untuk Ibu. Selanjutnya aku berikan kado lukisan Dita dan Niti. Ibu tampak sangat bahagia menerimanya, di sisi lain aku sangat terharu dhadapkan pada situasi seperti itu.

 

Ibuku adalah seorang yang kuat, tekun, tidak pernah menyerah bahkan dalam kondisi sesulit apapun. Beliau selalu menekankan kepada anak2nya kejujuran, ketelitian, kedisiplinan, memihak pada kebenaran, dan juga tentunya usaha untuk selalu berjuang dalam keadaan bagaimanapun. Hingga akhir hayatnya Ibu selalu mengingatkan anak2nya untuk tidak meninggalkan sholatnya. Ibu selalu mengajarkan kepadaku bagaimana seorang wanita bersikap, yaitu bagaimana harus menghormati dan menghargai suami, dan bagaimana harus mencintai anak2nya. Masih hangat dalam ingatanku hingga kini bagaimana Ibu juga sebagai teman bercerita yang menyenangkan. Ibu adalah sosok yang dihormati anak2nya, dihormati adik2nya, dan juga dihormati kerabat dan para tetangga. Ibu adalah istri yang sangat dicintai Bapak hingga akhir hayat. Ibu bukanlah seorang yang sempurna, bukan seorang yang berpendidikan tinggi, namun bagi kami, anak2nya, bahkan bagi adik2nya beliau selalu menjadi cermin.  

 

Tidak terasa waktu berjalan demikian cepat. 6 Maret kemarin, 7 tahun sudah Ibu berpulang. Rasanya masih jauh dari cukup apa yang sudah aku berikan kepadanya semasa hidupnya. Kini hanya doaku, Ibu……

 

Ibu, aku sangat menyayangimu……..and I miss u sooooooooo much…..

May Allah swt bless u ….always and forever ……..

 

 

Kategori: jejak_keluarga

Keajaiban Dunia = Soulmate ?

Februari 27, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Enggak seperti keajaiban dunia yang lain, keajaiban dunia bagiku berwujud manusia. Mau tau siapa dia? Dialah papanya anak2ku. (ehmm..ehmm… …moga2 yang bersangkutan gak baca…hehehe… :D )

 

Entah oleh suatu kekuatan apa (ya yang pasti izin Allah swt), keajaiban ini mulai aku rasakan sejak tahun 1989 (eh…tapi waktu itu belum jadi suami ya…bahkan jadi pacar pun belom kok :P   ). Pada beberapa kesempatan aku sering melakukan beberapa hal secara bersamaan dengannya. Misalnya nih ya…., pas pada detik yang sama aku batuk dia juga batuk. Pas pada detik yang sama aku berdehem, dia juga berdehem. Terus, pada detik yang sama aku nyanyi lagunya Chrisye eh…dia juga pas nyanyi lagu yang sama dan memulainya pun pada kalimat yang sama. Sering akhirnya kita liat-liatan trus ketawa geli ….. Itulah …aneh tapi nyata.

 

Dan ternyata, hingga saat ini pun peristiwa aneh tapi nyata itu masih berlanjut. Aku sempet dibuat geli banget dengan kejadian 2 hari yang lalu. Kebetulan hari itu aku buat nasi bogana kesukaan anak2. Dan mau tahu apa yang terjadi sore hari? Ternyata papa pulang dari kantor membawa 2 bungkus nasi bogana. Heheheh…. Aneh nggak sih? Bukan itu saja, beberapa kali pun kejadian seperti itu pernah terjadi. Pada saat aku masak gudeg komplit, papa pas makan malam ketawa, katanya tadi siang di kantor makan gudeg. Pas aku goreng lele, katanya siang tadi makannya pecel lele.

 

Oya, ini yang lucu… ceritanya waktu itu aku penasaran banget pengen bikin roti cane. Setelah berhari2 belajar lewat youtube akhirnya aku meyakinkan diri bahwa aku bisa membuatnya. Tapi…ternyata …faktor semangat tidak selamanya berbanding lurus dengan kemampuan. Ternyata roti cane yang aku bikin berbentuk aneh..alias GAGAL sodara-sodara…. Bukan cuma bentuknya yang aneh tapi teksturnya pun gak dapet. Bahkan Niti aja sampe ketawa geli ngeliat roti cane ajaibku. :D Tapi ternyata sore harinya aku mendapat kejutan besar. Gak disangka-sangka kok pas banget papa sepulang dari kantor bawa oleh2 roti cane dari RM Kubang komplit dengan bumbu karinya. Kok bisa yaa….. ???? Wallahu a’lam….. 

What ever it is…..I luv u, paa…..

 

 

 

Kategori: jejak_keluarga · jejak_keseharian

Jagoan yang Tersembunyi

April 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kelahiran anakku yang nomor dua ini nyaris sebagai hadiah ulang tahun untuk papa & kakaknya. Bagaimana tidak, dia lahir tanggal 4 Juli (1996), sementara papanya lahir tanggal 3 Juli, dan kakaknya lahir tanggal 6 Juli. Lengkap sudah “paket hematku”, he..he… Sebagai rasa syukur, acara tiup lilin dilakukan di kamar rawat rumah sakit bersalin di tanggal 6 juli, 2 hari setelah kelahirannya, bertepatan dengan ulang tahun kakaknya. Karena “paket hemat”, papanya beli lilin berbentuk angka 3 dan 0 saja, sebagai lambang atas telah sampainya si papa di umur 30, dan si kakak kebetulan pas umur 3 tahun, sementara si adik yang baru lahir mendapatkan angka nol-nya. He..he.. gak salah kan kalo kusebut paket hemat ?

Papa ngasih nama bayi mungil itu “Niti Danastri”, yang berarti bidadari yang baik hati. Dan nampaknya doa kami yang terwakili dengan namanya benar-benar melekat pada sifat anakku ini. Niti tumbuh menjadi anak yang selalu bersikap baik terhadap keluarga dan juga teman-temannya.
 
Melihat perkembangannya, aku dan papanya menganggapnya sebagai “si kuda hitam”. Dengan gaya dan penampilan yang nampak biasa-biasa saja, sebenernya si imut ini memiliki potensi tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa sangat mengejutkan. Satu contoh kecil, aku & papanya dibuat terbengong-bengong ketika Niti mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. He..he.. bukan berarti kami under-estimate, cuma prestasi itu benar-benar suatu surprise yang indah yang ditunjukkan anakku kepada kami, karena bagi kami orang tuanya bukan peringkat yang harus dikejar, melainkan usaha keras yang harus selalu dilakukan. Bagiku itulah modal yang lebih diperlukan anak sebagai bekal ke depan. Contoh lain lagi, pada awalnya Niti lambat dalam belajar berenang, tapii… ternyata….. jangan ditanya lagi sekarang !! Bagiku dia “jagoan yang tersebunyi”, he..he…

Niti kecil inipun memiliki minat yang besar dalam urusan dapur. Di usia yang masih dini ini, dia sering menjadi staf ahliku untuk membantu mencicipi rasa masakanku. Dan hebatnya dia tahu persis kalo suatu masakan kurang asin, atau kurang manis sedikit, atau juga misalnya rasanya kurang mantab. Indra perasa di mulutnya sungguh luar biasa. Mungkin bakat dari nenek dan eyangnya menurun kepadanya.

Di waktu kehamilanku dulu, ada hal yang menarik yang aku rasakan. Pada waktu itu aku sama sekali nggak tertarik untuk memegang uang. Nggak tahu tuh, rasanya dulu kalo harus memasukkan uang ke dompet kok ada rasa “eneg”. Dan entah suatu kebetulan atau gimana, aku perhatikan Niti juga tidak memiliki ambisi terhadap uang. Pada saat ini bila kamar anak2 berantakan (karena aku kehabisan akal) aku gunakan hukuman denda bagi anak2 jika kamar mereka berantakan. Hukuman itu cukup efektif untuk Dita, tapi sangat tidak efektif untuk Niti. Bila kamarnya berantakan dan aku potong uang jajan Niti, anak itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi berkeberatan atas apa yang aku lakukan. Haahh…aneh..!! Tapi dia pun bukan anak yang pelit. Walaupun uang tabungannya cukup banyak, karena dia relatif jarang membelanjakannya, namun demikian untuk kebutuhan2 seperti membelikan hadiah untuk kakak atau temannya dia nggak akan ragu untuk menggunakan uang tabungan itu tanpa memintanya dariku.

Selain punya hobi seperti kakaknya, yaitu seni gambar, Niti juga hobi banget berenang. Dia biasa berenang rame-rame bareng temen2nya. Dan kalau sudah berenang…..hmmm… jangan ditanya lagi. Walau sudah diwanti-wanti untuk pulang siang kadang dia akan menunggu kolam renang tutup baru pulang. He..he.. Kalopun kulitnya akan gosong terbakar diapun nggak akan peduli !! . Oya, ada satu hobinya yang sering bikin aku ketawa sampe nggak tahan karena geli banget. Dia paling bisa menirukan gaya Sasya, salah seorang tokoh sitkom OB di RCTI yang minta ampun tulalit dan telminya. Aduuhh…setiap Niti menirukan cara bicara dan gayanya setiap itu pula aku nggak bisa nahan ketawa. He..he…

Tappiiii………………, dengan beberapa kelebihan yang dimilikinya ada satu hal yang seriiinng…bikin aku kesel. Apalagi kalo bukan keleletannya !! Sangat berbeda dengan kakaknya “Miss flash” yang maunya serba kilat sampe gedubrak-gedubruk, si bungsu ini adalah “Miss slow motion” karena menyukai gerakan-gerakan lambat. Aduuhhh…, anakku ini dari batita sudah kesohor keleletannya. Acara makan selalu diiringi dengan “nyanyian sumbang” dari mulutku. Gimana enggak, dengan ukuran porsi yang imut dia mampu menghabiskannya dalam waktu 1 ½ – 2 jam !!!. Sekarang sudah agak lumayan, acara makan berhasil dilewati dengan sukses selama 1 – ½ jam !! Suatu kemajuan bukan ??? He..he.. Acara minum susu pagi pun ibaratnya seperti acara ngeteh di sore hari yang santai. Dinikmati seteguk demi seteguk, dan itu bisa menghabiskan waktu hingga ½ jam !!! Yang ada sudah pasti aku yang teriak2 panik karena setengah jam berikutnya dia sudah dijemput mobil sekolah sementara mandi pun belum dilakukan. Aduuhhh…. Sabaar…sabbaaarrr……

Dengan keimutannya itu, Niti seringkali merasa kesal. Terlebih bila ada saudara ataupun tetangga yang memberi komentar “Wahh… masih kecil ya….”, atau “Wah…besarnya sama dengan…..(sambil menyebut nama seorang anak yang umurnya jauh di bawahnya)”, atau misalnya “Kok temennya tinggi-tinggi…?”, dst….dst….. Udah pasti kalo ada yang berkomentar seperti itu sampai di rumah omelannya bergema panjang lebar. Dan omelannya selalu diakhiri dengan pertanyaan, “kenapa sih aku tetep kecil….aku kan sudah makan banyak… aku kan sudah minum susu tiap hari, aku kan sering berenang…dst..dst..”. Yang aku bisa lakukan hanya menenangkannya dengan berkata “Nanti pasti juga tambah tinggi, nggak mungkin segini terus kaannn….., buktinya dulu tingginya sedada mama sekarang sudah sehidung mama……. ….. dst…dst..” Bahkan papanya juga ikut menambahkan “biar aja orangnya kecil, yang penting kemampuannya besar”. Ya, pokoknya semua kalimat yang sekiranya bisa memompa semangatnya kami “gaungkan”.

Begitulah anak2ku….Mereka adalah hiburan sekaligus harapan bagiku dan suamiku. Seperti halnya Dita, aku juga berharap semoga Niti menjadi anak sesuai nama yang kami berikan. Menjadi anak yang sholehah dan dibalut dengan ilmu yang bermanfaat, dan kebaikannya itu membawa manfaat baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi orang-orang di sekitarnya. Amin.

Ya Allah, alhamdulillah Engkau telah memberi anak2 yang sehat, anak2 yang baik, anak2 yang cerdas, dan juga menyenangkan bagi kami. Berilah selalu perlindungan-Mu kepada keduanya di manapun mereka berada. Perlindungan lahir maupun batin, perlindungan yang tentunya membawa kebaikan dunia & akhirat Ya Allah…….Ya Rabb……

Amin.

ps. pesen mama : gali terus kelebihan2 yang ada pada diri kalian ya, Dita & Niti…… Mama & Papa akan terus mendoakan kalian, sampai kapanpun !!

Kategori: jejak_keluarga

My Flashy Girl

Maret 21, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

candya-pradipta.jpg

 

Namanya Candya Pradipta. Tapi anakku yang pertama ini selalu saja cemberut kalo kupanggil Candya, padahal itu nama yang indah kannn ??. Dia memang lebih suka kalau dipanggil Dita. Mungkin karena udah terbiasa dengan panggilan itu kali ya, jadi seolah-olah Candya adalah seseorang yang bukan dirinya. He.he..

Terlahir di Jakarta tanggal 6 Juli 1993, bagiku Dita adalah sesuatu yang nggak terbayang sebelumnya namun nyata. Ahh…yaaa…. mungkin memang seperti itu perasaan seluruh ibu di dunia ini ketika melahirkan anak pertama. Dan anakku itu kuberi nama Candya Pradipta yang berarti ciptaan yang kemilau. Kami orang tuanya memang berharap dia akan menjadi manusia yang berkilau karena ilmu maupun ibadahnya. Amiinnn…

Kata almarhumah neneknya dulu, Dita memiliki tatapan yang cerdas. Gak tau juga deh, tapi  ketika bayi di waktu papanya dateng setiap akhir minggu (waktu itu papanya masih tugas di luar kota), selalu aja ada kemajuan pesat yang dia pertontonkan untuk papanya itu.  Pertumbuhannya memang lebih cepat dari rata2 (ini sih kalo ukuran rata2 memang sesuai dengan buku tentang pertumbuhan bayi yang aku baca ya…, soalnya jujur memang aku belum pernah bikin survey tentang pertumbuhan rata2 bayi –> ngaku :) ).

Tapi ya begitulah, saking semuanya mungkin maunya cepet, sampe besar pun sepertinya terbawa sehingga enggak perlu heran lagi kalo dia lewat seringkali terdengar suara yang seolah-olah menjadi “bayangannya” ….. gedubrakk …. krompyannggg …. jedugg ….. pyyaarrrr…. huaaa mamaaaa….!!!!  He…he…, begitulah anakku…. Kadang nabrak pintu, kadang nyenggol gelas, kadang nyerempet kursi, tapi nggak jarang pula adiknyalah yang jadi korban. Yang ada akhirnya suaraku yang kemudian menjadi echo dari apa yang terjadi di rumah “ Ditaaaaaaaa………ati-atiiiiiiiiii…. !!!!” (pastinya dengan suara melengking !!). Yaa… begitulah suasana rumahku, aku begitu aktif berpartisipasi menyemarakkan suasana dengan suaraku yang sopran. Tapi untunglah kejadian heboh seperti itu semakin berkurang pada saat ini. Yang pasti dalam segala hal “kalau dia mau” pasti akan dilakukan secepat kilat. He..he… memang dengan catatan kalau dia mau….

Dita ini dalam kesehariannya selalu memakai celana pendek ataupun panjang. Rasanya hampir nggak sekalipun dia mengenakan rok, kecuali hanya seragam sekolahnya saja. Pernah aku belikan rok beberapa kali tapi yang ada selalu pertengkaran yang terjadi karena si anak tetep gak mau pakai rok, sementara mamanya maksa. He..he.., jadi inget, pernah beberapa tahun lalu tiba-tiba Dita minta dibeliin rok bawahan jins. Aduuuhhh…betapa senangnya aku… Tapi apa yang kemudian terjadi? Rok itu hanya dipakai satu kali karena akhirnya dia merasa nggak bisa bebas bergerak. Ah…ya sudahlah…sekarang aku nggak pernah memaksanya lagi. Bagiku dia berdandan tanpa rok pun bisa tetap terlihat cantik.

Dalam masa pertumbuhannya banyak hal-hal yang membanggakan pada dirinya. Pada usia 9 ½ bulan Dita udah bisa jalan, dan sudah nggak ngompol. Anakku ini cerdas (ya memang begitu, semua ibu selalu mengaku anak-anaknya cerdas, kan ?? He..he…). Pada usia 2 ½ tahun Dita sudah pandai bernyanyi bahkan suka sekali mendongeng tokoh si Kancil (terbalik ya… ini anaknya yang suka mendongengi mamanya). Wajah dan tingkahnya pun lucu sekali sehingga selalu menghibur hati nenek sama akungnya yang waktu itu sedang sakit. Bahkan tantenya pun seringkali terpingkal-pingkal melihat tingkah lakunya. Namanya selalu berada di jajaran atas ranking di kelas. Dia pun pandai menggambar dan punya ketertarikan yang lebih di bidang grafis. Anak ini tumbuh menjadi anak yang sangat rasional (ahaa… yang ini kayak papanya bangeth !!). Bahkan kadang kala aku begitu dikejutkan karena dengan kerasionalannya (eh.. ada gak kata ini ya ?) dia bisa saja berubah menjadi sosok yang lebih dewasa daripada mamanya sendiri, he..he…he…

Namun tentunya ada juga masa-masa dalam pertumbuhannya yang membuat aku harus mengelus dada. Mungkin memang begitulah, pada waktu Dita tumbuh menjelang remaja, aduuuhhh…. sepertinya tiada hari tanpa melihat dia ngambek dan uring-uringan. Kelakuannya entah kenapa pada waktu itu sering sekali bikin jengkel. Tapi untunglah hal itu sudah berlalu. Secara umum sih Dita bukan anak yang menyulitkan bagi kami orangtuanya. Syukur Alhamdulillah…..  Semoga demikian yang terjadi selanjutnya.

Aku dan papanya sangat berharap Dita menjadi anak yang “berkilau” karena ilmu yang bermanfaat, dan dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Dan tentunya, yang ini sangat-sangat menjadi harapan kami, dia juga menjadi anak sholehah. Aduhh…. senangnya mempunyai anak yang sholehah dan cerdas, karena tentunya bisa membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan, bukan saja bagi dirinya sendiri, namun juga bagi orang tua dan banyak orang di sekelilingnya. Amin Ya Allah…..

Kategori: jejak_keluarga