Di kilometer berapakah aku?

Posted: Maret 11, 2008 in jejak_jiwa
Tag:

hijrah4.jpg    Hijrah.  Satu kata yang ditulis dalam huruf besar itu menjadi judul satu majalah dan menjadi kajian utama dalam edisi menyambut datangnya tahun baru hijriah 1429. Secara umum digambarkan bagaimana Rasulullah berpindah dari Mekah ke Madinah dengan berbagai halangan dan rintangan selama menempuh perjalanan itu. Dan seterusnya dan seterusnya … Rasanya kisah itu sudah berkali-kali aku dengar sejak masih SD dulu. Selanjutnya pemaknaan tersebut mengalami pengembangan, yaitu dimana hijrah adalah berubahnya seseorang dari hal-hal buruk kepada hal yang baik, atau secara garis besar berarti meningkatkan derajad ketakwaan seseorang kepada Allah swt.

Tapi yang kemudian aku rasakan seolah-olah ada yang mengkilik-kilik dalam hatiku dengan pertanyaan, apa iya pemaknaan itu sudah benar-benar aku pahami?. Tiba-tiba dalam hatiku pula ada yang menjerit dan protes keras “Ya pasti sudahlah”. Selanjutnya dia pun berargumentasi (masih di dalam hatiku), “Loh,  gimana enggak ? Aku melaksanakan rukun islam, aku mempercayai rukun iman, aku pergi ke majelis taklim, aku membaca Al Quran, aku mengajari anak-anakku dengan hal-hal baik, bahkan setiap bangun tidur pun aku membaca basmallah sebelum beraktifitas menyiapkan segala sesuatu untuk keluargaku “.

Astaghfirullah……. Betapa sombongnya aku Ya Allah…. Betapa aku selama ini merasa sudah  berlaku sebagaimana seharusnya muslim yang baik. Astaghfirullah…. Nggak terasa air mataku menetes. Tergambar dalam mataku, bagaimana aku seringkali terjebak dalam ritual yang rutin dan berjalan seperti robot yang sudah diset oleh komputer, bagaimana aku seringkali kehilangan makna dalam beribadah, bagaimana tidak sabarnya aku menghadapi anak-anakku, bagaimana kepalaku dipenuhi dengan hitungan-hitungan yang sangat duniawi, bagaimana aku dikuasai oleh kekhawatiran-kekhawatiran dan melupakan kata tawakal, bagaimana …. bagaimana……dst…dst…. Air mataku semakin deras berderai….

Astaghfirullah…… Aku seperti terhenti di halte pemberhentian dan terperosok ke dalam lubang kepuasan atas apa yang telah aku capai. Aku merasa sudah cukup baik dalam beribadah untuk menjangkau rahmatMu. Ya Allah … betapa bodohnya aku ….

Aku termenung dalam kesendirianku. Begitu banyaknya kebaikan yang belum aku lakukan bila dibandingkan dengan apa yang sudah aku lakukan. Begitu tidak sempurnanya kebaikan-kebaikan dan ibadah yang sudah aku lakukan. Begitu banyaknya dosa dan hal buruk yang aku lakukan namun tertutupi oleh kesombongan dan kebodohanku. Hatiku tercekat. Tergambar betapa panjangnya rute yang seharusnya aku tempuh untuk mencapai ke-ridlaanNya tapi aku justru terhenti disini terbuai dengan fatamorgana.

Ya Allah…..Ya Rahman Ya Rahim…… aku mohon ampun ……..
Aku mohon ampun padaMu ya Allah ……….
Hapuslah kesombongan dalam hatiku ini. Singkirkan kebodohanku ini. Kuatkanlah hati ini untuk membawa diri melangkah dan melangkah, terus berjalan menggapaimu Ya Allah….. Walau langkahku hanya sejengkal-sejengkal dan tertatih-tatih…… .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s