Edelweiss

Posted: Agustus 8, 2008 in jejak_jiwa, jejak_keseharian

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me

Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever

Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever

   

 

Kalau saja yang aku dengar adalah lagu Edelweiss dari film “The Sound of Music” tentu hatiku akan mendayu-dayu dipenuhi keheningan dan kedamaian, sehening dan sedamai ketinggian gunung dimana bunga-bunga edelweiss itu tumbuh subur menghiasi tebing-tebingnya. Namun edelweiss yang aku temui ini adalah ruang rawat inap di RS Mitra Keluarga Bekasi dimana aku harus menginap selama 4 malam disana. Tentu perasaan yang jauh berbeda yang aku rasakan pada waktu mendengar aku harus dirawat karena kelenjar getah beningku yang terinfeksi.

 

Tidak seperti biasanya, pagi itu setelah aku menyiapkan segala keperluan anak-anak untuk berangkat sekolah tubuhku menggigil kedinginan disertai pusing, mual, dan segala yang enggak enak. Dan tidak seperti biasanya pula pagi itu aku pesan ke anak-anak supaya pintu garasi langsung ditutup aja, karena aku tidak mengantar mereka sampai ke depan rumah. Setelah itu aku segerakan untuk menunaikan sholat subuh, dan sesudahnya tubuhku semakin minta untuk tidur.

 

Aku ukur suhu tubuhku dan termometer menunjukkan angka 38, wah…cukup demam, pikirku. Sekitar pukul 7.00 pagi papanya anak2 pulang dari mengantar sekolah. Hari itu memang sudah aku jadwalkan untuk pergi ke dokter, makanya si papa gak ke kantor. Pagi itu aku ukur ulang suhu tubuhku dan ternyata sedikit naik menjadi 38.4. Mengetahui aku sakit, mbak evi sebelah rumah segera menjengukku ke rumah. Dipijitnya kaki-kakiku yang terasa sakit. Sambil memijit-mijit, dia katakan “pantes, kemaren waktu acara jalan sehat kok aku nggak seperti biasanya diemmm… aja, gak ngobrol, gak makan, Cuma melonjorkan kaki, bersandar ke dinding, dan bolak-balik minum teh jahe yang disajikan”. Yaa.., sebetulnya sejak 2 hari sebelumnya badanku sudah terasa tidak sehat.

 

Pada pukul 10 pagi itu aku diantar si papa berangkat ke rumah sakit. Aku semakin lemas gak berdaya, hanya meringkuk di mobil sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit pun aku terduduk lemas di bangku tunggu. Tapi Allah ternyata benar-benar memberikan pertolongan. Dari urutanku yang ke 24 pada saat aku datang nomor urut yang ada di ruang dokter baru menunjukkan nomor 1. Yang terbayang sebelumnya adalah waktu antrian yang lama. Tapi seperti kataku tadi, kalau Allah menghendaki gak ada yang gak mungkin. Entah kenapa nomor2 selanjutnya dipanggil kok gak ada yang muncul. Aneh sekali. Dan tidak terlalu lama sampailah nomorku dipanggil. Alhamdulillah….. jadi inget acara di TV dulu yang bertajuk “percaya nggak percaya”. Tapi itulah bantuan Allah.

 

Dari hasil pemeriksaan dokter menyarankan aku untuk dirawat, mengingat suhuku kembali naik menjadi 39.70 C. Aku pasrah saja. Yang menjadi pemikiranku hanyalah bagaimana urusan rumah dan anak-anak. Memang itu yang menjadi beban pikiranku, meninggalkan anak-anak pada saat mereka masih membutuhkan aku. Tapi segera aku luruskan pikiranku. “ Ya Allah, aku pasrahkan anak-anak dan suamiku dalam perlindungan-Mu”, begitulah doaku waktu itu.

 

Saudara-saudara dan teman-teman bergantian mengunjungiku di rumah sakit. Tentu saja kehadiran serta doa mereka sangat memberiku semangat. Apalagi kalau saatnya anak-anak dan papanya berkunjung. Aduuh…., nggak terkatakan deh…karena merekalah buah hatiku… Juga beberapa teman yang tidak bisa berkunjung dari berbagai kota sengaja mengirim sms yang berisi doa dan penyemangat. Salah satu sms yang sangat menyentuhku berbunyi “ mbak, terkadang dalam ujian terkandung karunia Allah” (matur nuwun ya, mas Darmadi). Aku coba untuk memaknai sms itu…. Dan, alhamdulillah dari sana aku justru mensyukuri sakitku itu karena itulah cara Allah memaksaku untuk sementara berhenti dari siklus mesin keseharianku agar bisa bertafakur. Subhanallah, banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan dari kursus kilat yang diberikan Allah itu. Aku sangat menyadari bahwa sakitku adalah pemberian Allah dan aku ikhlas untuk melaluinya. Dan karena itu maka hanya kepada Allah-lah aku memohon segalanya. Pada saat sakit kita semakin bisa merasakan nikmat yang telah kita terima dari-Nya, dan hanya Allah yang memiliki hak prerogative apakah kita masih diberi kesempatan untuk menikmatinya atau tidak. Ya Allah…. Engkaulah Yang Maha Tahu….

 

Dan akhirnya…. hari ini aku sudah bisa duduk lagi di depan komputer dalam keadaan yang sudah pulih. Semua kegiatan rutinku semakin terasa indah aku lalui. Menyapu, memasak, mencuci, menyeterika, yaa…pokoknya layaknya semua kegiatan ibu-ibu di rumah menjadi semakin indah bagiku ……

 

Thank to edelweiss class…..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s